Pernah mengalami hal seperti ini?
Selesai olahraga, baju langsung dimasukkan ke cucian. Setelah dicuci, aromanya memang terasa lebih segar.
Tetapi begitu dipakai olahraga lagi dan tubuh mulai berkeringat...
Bau yang sebelumnya sudah hilang tiba-tiba muncul kembali.
Menyebalkan, bukan?
Apalagi kalau kaus olahraga tersebut sebenarnya terlihat bersih dan sudah dicuci menggunakan deterjen.
Masalah seperti ini cukup umum terjadi, terutama pada pakaian olahraga berbahan sintetis seperti polyester.
Lalu, kenapa baju olahraga tetap bau setelah dicuci?
Ternyata masalahnya bukan selalu karena pakaian belum bersih.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mulai dari kebiasaan setelah olahraga, proses pencucian, hingga cara mengeringkannya.
Pakaian olahraga mempunyai tugas yang cukup berat.
Selama digunakan, kain bersentuhan langsung dengan keringat, minyak tubuh, dan berbagai residu dari aktivitas fisik.
Kondisinya menjadi semakin rumit ketika pakaian dibiarkan dalam keadaan lembap terlalu lama.
Pada bahan tertentu, aroma yang tertinggal juga dapat terasa kembali ketika pakaian terkena panas tubuh atau keringat.
Itulah sebabnya sebuah kaus bisa terlihat bersih tetapi masih menyimpan aroma yang tidak menyenangkan.
Saat berolahraga, tubuh menghasilkan keringat.
Namun keringat bukan satu-satunya hal yang menempel pada pakaian.
Ada minyak tubuh dan berbagai senyawa lain yang ikut berpindah ke serat kain.
Kalau proses pencucian tidak mampu mengangkat seluruh residu tersebut, sebagian bisa tetap berada di dalam serat.
Ketika pakaian dipakai kembali, terutama saat tubuh mulai berkeringat, aroma tersebut bisa terasa lagi.
Jadi jangan heran kalau:
“Sudah dicuci, kok bau lagi?”
Karena sumber masalahnya mungkin belum benar-benar terangkat.
Ini salah satu kebiasaan yang paling mudah dilakukan.
Selesai olahraga, kaus dilepas.
Kemudian dilempar ke keranjang pakaian.
Besok baru dicuci.
Padahal pakaian masih lembap oleh keringat.
Kondisi lembap seperti itu bukan kondisi ideal untuk pakaian.
Semakin lama dibiarkan, semakin sulit pula menjaga pakaian tetap segar.
Setelah olahraga:
Lepaskan → angin-anginkan → cuci sesegera mungkin.
Kalau belum bisa langsung mencuci, jangan menggulung pakaian dalam kondisi basah lalu memasukkannya ke keranjang tertutup.
Ini kesalahan yang cukup sering terjadi.
Baju berbau?
Tambahkan pewangi.
Masih bau?
Tambahkan lagi.
Padahal pewangi bukanlah solusi utama untuk menghilangkan sumber bau.
Kalau residu keringat masih berada di serat pakaian, menambahkan aroma wangi hanya memberikan efek sementara.
Hasil akhirnya malah bisa menjadi campuran:
bau keringat + pewangi.
Dan biasanya hasilnya tidak terlalu menyenangkan. 😅
Lebih baik fokus pada proses pencucian terlebih dahulu.
Ada anggapan:
“Kalau bajunya bau, deterjennya ditambah.”
Belum tentu.
Deterjen yang terlalu banyak dapat meninggalkan residu apabila tidak terbilas dengan baik.
Karena itu, gunakan deterjen sesuai petunjuk produk dan kapasitas cucian.
Tujuannya bukan membuat pakaian penuh aroma deterjen.
Tujuannya adalah membantu proses pembersihan berlangsung dengan baik.
Kalau hampir semua pakaian yang dicuci memiliki aroma kurang segar, jangan hanya menyalahkan pakaiannya.
Perhatikan juga mesin cucinya.
Sisa deterjen, kotoran, kelembapan, dan residu dari cucian sebelumnya dapat menumpuk di beberapa bagian mesin.
Karena itu, mesin cuci juga membutuhkan perawatan.
laci deterjen;
karet pintu pada front loading;
filter;
bagian dalam tabung;
dan area lain yang memang perlu dibersihkan sesuai petunjuk mesin.
Mesin yang digunakan untuk mencuci juga perlu mendapatkan perhatian.
Pakaian membutuhkan ruang untuk bergerak selama proses pencucian.
Kalau tabung terlalu penuh, proses pencucian dan pembilasan bisa menjadi kurang optimal.
Untuk pakaian olahraga yang banyak terkena keringat, hal ini menjadi semakin penting.
Lebih baik membagi cucian daripada memaksakan semuanya masuk dalam satu siklus.
Setelah dicuci, jangan menganggap pekerjaan selesai.
Pakaian olahraga harus dikeringkan dengan baik.
Kalau pakaian masih lembap kemudian langsung dilipat atau dimasukkan ke lemari, masalah bau dapat muncul kembali.
Jika dijemur:
pastikan sirkulasi udara cukup;
jangan menumpuk pakaian terlalu rapat;
pastikan bagian yang tebal benar-benar kering.
Jika menggunakan mesin pengering:
ikuti petunjuk pada label pakaian;
pilih pengaturan yang sesuai;
jangan menggunakan suhu tinggi sembarangan.
Tidak semua pakaian olahraga bisa diperlakukan sama.
Ada pakaian yang lebih sensitif terhadap panas.
Ada yang mempunyai lapisan atau struktur bahan tertentu.
Ada pula pakaian yang memang dirancang dengan teknologi khusus untuk membantu mengatur kelembapan.
Karena itu, biasakan membaca label perawatan pakaian.
Jangan hanya mengandalkan kebiasaan.
Sekarang kita masuk ke bagian praktis.
Kalau ingin mengurangi kemungkinan bau kembali muncul, coba gunakan alur sederhana berikut.
Setelah selesai olahraga, jangan membiarkan pakaian basah dan berkeringat terlalu lama.
Pakaian olahraga yang sangat berkeringat dapat dipisahkan dari pakaian biasa.
Berikan ruang yang cukup agar pakaian dapat bergerak.
Tidak perlu berlebihan.
Tujuannya agar residu pencucian tidak tertinggal.
Jangan membiarkan pakaian basah terlalu lama setelah siklus pencucian selesai.
Baru kemudian pakaian dilipat dan disimpan.
Kalau sudah mencoba memperbaiki kebiasaan tetapi baju olahraga masih tetap bau, jangan langsung menyerah.
Coba evaluasi seluruh proses.
Apakah pakaian terlalu lama berada dalam kondisi basah?
Apakah mesin cuci bersih?
Apakah deterjen digunakan sesuai takaran?
Apakah mesin terlalu penuh?
Apakah pakaian benar-benar kering?
Dengan memeriksa satu per satu, kita bisa lebih mudah menemukan titik masalahnya.
Ada satu hal yang sering dilupakan.
Tas olahraga.
Baju sudah dicuci dan bersih, tetapi setelah dimasukkan ke tas yang masih lembap atau berbau, aroma tersebut bisa kembali menempel.
Jadi sesekali periksa juga:
tas olahraga;
handuk;
sepatu;
botol minum;
dan perlengkapan olahraga lainnya.
Menjaga pakaian tetap segar bukan hanya tentang mencuci bajunya.
Lingkungan tempat pakaian disimpan juga perlu diperhatikan.
Ini menjadi tantangan tersendiri.
Pakaian olahraga sudah dicuci, tetapi tidak kunjung kering.
Kalau dibiarkan terlalu lama, pakaian bisa kembali berbau.
Dalam kondisi seperti ini, mesin pengering dapat menjadi alternatif untuk membantu mempercepat proses pengeringan.
Namun tetap perhatikan label pakaian dan pengaturan mesin.
Tidak semua bahan cocok mendapatkan suhu tinggi.
Ada kondisi ketika mencuci sendiri memang kurang praktis.
Misalnya:
pakaian olahraga menumpuk;
mesin di rumah kapasitasnya terbatas;
tidak memiliki mesin pengering;
cuaca terus hujan;
atau waktu untuk mencuci sangat terbatas.
Dalam situasi seperti ini, laundry bisa menjadi salah satu alternatif.
Bagi yang ingin tetap memiliki pengalaman mengoperasikan mesin sendiri, self service laundry juga bisa menjadi pilihan.
Anda dapat menggunakan mesin cuci dan pengering yang tersedia sesuai prosedur.
Self service laundry pada dasarnya memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk melakukan proses pencucian sendiri menggunakan fasilitas yang tersedia.
Konsep seperti ini bisa menarik bagi orang yang:
ingin mencuci sendiri;
membutuhkan mesin berkapasitas lebih besar;
membutuhkan pengering;
atau ingin menghemat waktu dibandingkan mencuci manual.
Kalau Anda ingin memahami konsep tersebut lebih jauh, Anda bisa membaca artikel:
[Self Service Laundry Bantul: Cara Cuci Praktis untuk Pemula]
Dan kalau ingin melihat pengalaman menggunakan konsep tersebut secara langsung:
[Cerita Yudhi Menggunakan Self Service Laundry di Palbapang Bantul]
Kedua artikel tersebut kita gunakan sebagai bagian dari cluster laundry rumahyea.id.
Sebenarnya kuncinya cukup sederhana.
Jangan biarkan pakaian berkeringat terlalu lama.
Jangan memenuhi mesin.
Jangan berlebihan menggunakan deterjen.
Jangan menunda pengeringan.
Dan yang tidak kalah penting:
pastikan pakaian benar-benar kering sebelum disimpan.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu menjaga pakaian olahraga tetap nyaman digunakan.
Kenapa baju olahraga tetap bau setelah dicuci?
Jawabannya bisa berasal dari banyak hal.
Keringat dan minyak tubuh dapat meninggalkan residu pada pakaian. Kebiasaan membiarkan pakaian basah terlalu lama, mesin cuci yang kurang terawat, penggunaan deterjen yang tidak tepat, kapasitas mesin yang terlalu penuh, serta pengeringan yang kurang optimal juga dapat memengaruhi hasil akhirnya.
Jadi ketika baju olahraga kembali bau setelah dicuci, jangan langsung menyalahkan deterjen.
Coba lihat seluruh prosesnya.
Mulai dari pakaian selesai digunakan sampai akhirnya disimpan kembali di lemari.
Karena pakaian yang benar-benar bersih bukan hanya terlihat bersih.
Pakaian juga harus diproses, dikeringkan, dan disimpan dengan cara yang tepat agar tetap nyaman digunakan.
Bisa disebabkan oleh residu keringat dan minyak tubuh, pakaian terlalu lama dibiarkan basah, proses pencucian kurang optimal, mesin cuci kurang bersih, atau pakaian tidak benar-benar kering.
Sebaiknya jangan dibiarkan terlalu lama dalam kondisi lembap dan berkeringat. Jika belum bisa langsung dicuci, setidaknya jangan menyimpannya dalam keadaan basah di tempat tertutup.
Belum tentu. Gunakan sesuai takaran yang dianjurkan agar proses pencucian dan pembilasan tetap optimal.
Residu yang masih tertinggal pada serat dapat kembali tercium ketika pakaian terkena panas tubuh dan keringat.
Bisa untuk pakaian yang memang mengizinkannya, tetapi selalu periksa label perawatan dan gunakan pengaturan yang sesuai.
Artikel Terkait:
Cara Mencuci Baju Thrift dan Baju Bekas Sebelum Dipakai agar Lebih Bersih
Cara Mencuci Baju Putih dengan Sitrun: Ampuh untuk Noda dan Kusam?
Pakaian Sudah Dicuci Tapi Masih Bau? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Kenapa Baju Olahraga Tetap Bau Setelah Dicuci? Begini Cara Mengatasinya
Cara Mencuci Baju Bayi yang Benar agar Bersih, Lembut, dan Nyaman Dipakai